Wilujeng Sumping di blog Bungbulang, Kampung anu di Pikasono ku Baraya Salembur .

Ucapan terimaksih kepada kerabat, sahabat, dan seluruh warga bungbulang pada umumnya, blog sederhana ini akhirnya bisa tampil dan di publikasikan berkat keinginan dan dorongan dari teman-teman semuanya.
blog ini tempat berkumpul "baraya salembur"... saya yakin banyak warga bungbulang yang berada diluar kota, blog ini hadir sekedar untuk melepas rasa rindu pada kampung halam kita yang tercinta.
WILUJENG SUMPING KA SADAYA BARAYA TI LEMBUR DIBLOG BUNGBULANG
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Batu Pancawarna Bungbulang Garut

Belanja di elevenia gratis voucher 1 juta Batu Keluarga Chalcedony ini sangat identik denga fosil kayu yang warna-warni. Ciri Khas 5 warna dalam 1 batu yang dikenal dengan sebuta batu pancawarna ini sangat melegenda dan harganyapun cukup mahal. Selain sebutan batu pancawarna ada juga yang menyebutnya dengan sebutan batu gambar, jenis pancawarna terbaik dengan kualitas super adalah batu pancawarna edong, jenis pancawarna edong sudah sangat langka sekali, bahkan untuk rough jenis edong sudah tidak ada, bahkan beberapa puluh tahun silam jenis batu ini sudah habis di pasaran bungbulang. Adapun saat ini yang masih beredar di pasaran adalah jenis batu pancawarna Caringin, Gunung kencana, dan Ciangel. Untuk galian Ciangel saat ini sudah di tutup dan tidak ada aktifitas lagi.

Pncawaran Edong

IMG_0958[1]
Batu Pancawarna Abah Edong
Pancawarna Edong merupakan galian sekitar tahun 1971 batu langaka ini di temukan oleh Abah Edong, batu ini adalah batu yang paling melegenda bahakan konon katanya dari beberapa sumber berita ada yang menyebutkan batu pancawarana edong banyak diminatai dan pakai oleh para tokoh dunia salah satunya Pangeran Charles. Abah Edong sendiri mewariskan Batu Kesayangnyan kepada Cucu-Cucunya dan saat ini batu tersebut masih ada di tangan cucu-cucunya ( Kira-kira berapa harganya ya ??? ). Namun saat ini di beberapa situs tetangga sebelah ada yang menjual Rough Pancawarna Edong, Bahakan harganyapun sangat murah sekali kisaran antara 1 – 3 juta rupiah. saat mimin bungbulang gemstone melihat salah satu iklan dengan Text Line ” Dijua Batu Pancawarna Edong” dengan harga dibawah 2 juat. mimin langsung ngebut ke TKP sesampainya di di TKP mimin langsung klak klik  beberapa pic rough  yang dipajang n user, setelah di perhatikan ternyata itu batu jenis galian Ciangel, kenapa bisa demikian??? Orang mengenal batu pancawarna dari garut itu dengan sebutan Pancawarna Edong.

Pncawarna Gambar

Batu Pancawarna Gambar banyak penggermarnya, karena keunikan dan keindahan batu pancawarna gmbar ini sepeti lukisan hasil sang maestro sperti lukisan realis, abstrak, semirealis, ekspresi, sketsa. Harganyapun sangat bervaratif  tergantung dari jenis nilai keindahan yang memperspektifkan seni sebagaimana seni lukis.
10386846_760874413953871_4985374454648175342_n Batu gambar disamping merupakan salah contoh jenis batu yang cukup mahal. di Caringin sendiri sebagai penghasil batu ini dibandrol dengan harga sekitar 50 Juta. Bahakan beberapa watu yang lalu batu ini sempet di lelang disalah satu akun social media kolektor dengan bid 80 juta. nah itulah diantarnya keunikan dari batu pancawarna gambar.

Watek Urang Sunda


Sunda berasal dari kata Su = Bagus/ Baik, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah dijalankan sejak jaman Salaka Nagara sampai ke Pakuan Pajajaran, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.
Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa namun dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara. Bahkan menurut Stephen Openheimer dalam bukunya berjudul Sundaland, Tatar Sunda/ Paparan Sunda (Sundaland) merupakan pusat peradaban di dunia. Sejak dari awal hingga kini, budaya Sunda terbentuk sebagai satu budaya luhur di Indonesia. Namun, modernisasi dan masuknya budaya luar lambat laun mengikis keluhuran budaya Sunda, yang membentuk etos dan watak manusia Sunda.
Makna kata Sunda sangat luhur, yakni cahaya, cemerlang, putih, atau bersih. Makna kata Sunda itu tidak hanya ditampilkan dalam penampilan, tapi juga didalami dalam hati. Karena itu, orang Sunda yang 'nyunda' perlu memiliki hati yang luhur pula. Itulah yang perlu dipahami bila mencintai, sekaligus bangga terhadap budaya Sunda yang dimilikinya.
Setiap bangsa memiliki etos, kultur, dan budaya yang berbeda. Namun tidaklah heran jika ada bangsa yang berhasrat menanamkan etos budayanya kepada bangsa lain. Karena beranggapan, bahwa etos dan kultur budaya memiliki kelebihan. Kecenderungan ini terlihat pada etos dan kultur budaya bangsa kita, karena dalam beberapa dekade telah terimbas oleh budaya bangsa lain. Arus modernisasi menggempur budaya nasional yang menjadi jati diri bangsa. Budaya nasional kini terlihat sangat kuno, bahkan ada generasi muda yang malu mempelajarinya. Kemampuan menguasai kesenian tradisional dianggap tak bermanfaat. Rasa bangsa kian terkikis, karena budaya bangsa lain lebih terlihat menyilaukan. Kondisi memprihatinkan ini juga terjadi pada budaya Sunda, sehingga orang Sunda kehilangan jati dirinya. 
Untuk menghadapi keterpurukan kebudayaan Sunda, ada baiknya kita melangkah ke belakang dulu. Mempelajari, dan mengumpulkan pasir mutiara yang berserakan selama ini. Banyak petuah bijak dan khazanah ucapan nenek moyang jadi berkarat, akibat tidak pernah tersentuh pemiliknya. Hal ini disebabkan keengganan untuk mempelajari dengan seksama, bahkan mereka beranggapan ketinggalan zaman. Bila dipelajari, sebenarnya pancaran etika moral Sunda memiliki khazanah hikmah yang luar biasa. Hal itu terproyeksikan lewat tradisinya. Karena itu, marilah kita kenali kembali, dan menguak beberapa butir peninggalan nenek moyang Sunda yang hampir.
Ada beberapa etos atau watak dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup. Selain itu, etos dan watak Sunda juga dapat menjadi bekal keselamatan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Etos dan watak Sunda itu ada lima, yakni cageur, bageur, bener, singer, dan pinter yang sudah lahir sekitar jaman Salakanagara dan Tarumanagara. Ada bentuk lain ucapan sesepuh Sunda yang lahir pada abad tersebut. Lima kata itu diyakini mampu menghadapi keterpurukan akibat penjajahan pada zaman itu. Coba kita resapi pelita kehidupan lewat lima kata itu. Semua ini sebagai dasar utama urang Sunda yang hidupnya harus 'nyunda', termasuk para pemimpin bangsa.
Cara meresapinya dengan memahami artinya. Cageur, yakni harus sehat jasmani dan rohani, sehat berpikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batin, sehat moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat suudzonisme. Bageur yaitu baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak emosional, baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan serta mengamalkan, bukan hanya dibaca atau diucapkan saja. Bener yaitu tidak bohong, tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam. Singer, yaitu penuh mawas diri bukan was-was, mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya. Pinter, yaitu pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan orang lain.
Sumber: Bapak Eman Sulaeman, Yayasan Hanjuang Bodas, Bogor.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More